Mpd.umsida.ac.id – Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82 kembali dibaca dari sudut pandang manajemen pendidikan Islam melalui penelitian yang ditulis Rahmi Rizqina Layyinawati dan Imam Fauji dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Baca Juga: Prof Jaenuri Kupas Makna Kupat dalam Spirit Syawal
Artikel yang terbit di TADBIR: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 13 No. 1 Februari 2025 itu menegaskan bahwa kisah Qurani tidak hanya memuat hikmah spiritual, tetapi juga memberi pelajaran konkret tentang hubungan pendidik dan peserta didik, metode pembelajaran, serta pentingnya adab dalam proses belajar.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research dengan sumber utama Al-Qur’an dan Tafsir Ibnu Katsir, lalu diperkuat dengan berbagai jurnal serta penelitian terdahulu. Fokus utamanya ialah menganalisis kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS sebagai landasan untuk memahami bagaimana manajemen pendidikan Islam dijalankan melalui keteladanan, kesabaran, kontrak belajar, dan penyampaian ilmu yang tepat.
Bagi pembaca Magister Manajemen Pendidikan Islam, kajian ini penting karena memperlihatkan bahwa pengelolaan pendidikan tidak semata berbicara tentang administrasi, perencanaan, dan kontrol, tetapi juga tentang cara membangun suasana belajar yang beradab, bermakna, dan manusiawi. Dalam konteks itulah kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dibaca bukan sekadar sebagai cerita, melainkan sebagai model interaksi edukatif yang masih relevan bagi dunia pendidikan saat ini.
Keteladanan pendidik dalam membangun proses belajar
Dalam hasil penelitiannya, penulis menempatkan Nabi Khidir AS sebagai figur pendidik yang tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga rahmat, kesabaran, dan ketegasan. Sosok ini menunjukkan bahwa guru tidak cukup sekadar menguasai materi, melainkan juga harus mampu memahami kondisi peserta didik, menetapkan aturan belajar, dan menjelaskan materi secara bertahap sesuai kesiapan murid.
Salah satu hal paling menonjol dari kisah tersebut adalah adanya kontrak pembelajaran sejak awal. Nabi Khidir meminta Nabi Musa untuk tidak terburu-buru bertanya sampai penjelasan diberikan pada waktunya. Dari sini, penelitian itu menyoroti bahwa pembelajaran yang baik membutuhkan kesepakatan, disiplin, dan kejelasan peran antara guru dan murid. Guru juga dituntut tetap lembut ketika menegur, tetapi tidak kehilangan ketegasan saat aturan dilanggar.
Penelitian ini juga menekankan bahwa pendidik harus ikhlas dalam menyampaikan ilmu. Keikhlasan dipandang sebagai fondasi moral yang menentukan kualitas pembelajaran. Selain itu, guru perlu memilih metode dan media belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, agar ilmu yang disampaikan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi benar-benar dipahami dan membentuk perubahan sikap.
Dalam perspektif MPI, temuan ini menunjukkan bahwa manajemen pendidikan Islam seharusnya menempatkan guru sebagai pengelola proses pembelajaran yang utuh: mengatur ritme belajar, menciptakan suasana edukatif, memberi arahan, sekaligus menjadi teladan dalam akhlak. Dengan kata lain, kepemimpinan pendidikan dimulai dari ruang kelas, dari bagaimana seorang pendidik memperlakukan peserta didiknya.
Peserta didik tidak cukup cerdas tetapi juga harus beradab
Jika Nabi Khidir menjadi representasi pendidik, maka Nabi Musa AS dalam penelitian ini dibaca sebagai gambaran peserta didik yang memiliki semangat belajar tinggi. Nabi Musa digambarkan menyiapkan bekal, menempuh perjalanan, bersedia mengikuti guru, dan terus berusaha memahami ilmu yang belum ia kuasai. Sikap ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, daya juang, dan kesiapan untuk berproses.
Namun penelitian tersebut tidak berhenti pada semangat belajar. Penulis justru menekankan bahwa peserta didik juga harus memiliki adab. Nabi Musa ditampilkan sebagai murid yang datang dengan rendah hati, memohon izin untuk belajar, bersedia mematuhi syarat yang diajukan guru, dan mau mengakui kesalahan ketika ia melanggar kesepakatan. Nilai-nilai seperti sabar, tawadhu, tanggung jawab, dan introspeksi menjadi poin penting yang ditarik dari kisah ini.
Di tengah problem pendidikan modern yang kerap ditandai melemahnya penghormatan kepada guru dan menurunnya etika belajar, hasil penelitian ini memberi kritik yang jelas. Pendidikan Islam tidak dapat dibangun hanya dengan target kognitif. Relasi guru dan murid harus kembali diletakkan di atas fondasi adab, penghargaan, dan kesediaan untuk belajar secara bertahap. Tanpa itu, proses pendidikan mudah berubah menjadi hubungan yang kering dan kehilangan makna.
Dari sudut pandang manajemen peserta didik, temuan ini juga relevan untuk pengembangan sistem pendidikan Islam saat ini. Peserta didik tidak cukup diarahkan agar aktif dan kritis, tetapi juga dibina agar disiplin, santun, dan mampu mengelola rasa ingin tahunya secara tepat. Penelitian itu menilai bahwa motivasi belajar yang kuat, jika disertai adab yang baik, akan membantu siswa menyerap ilmu dengan lebih optimal.
Pelajaran strategis bagi pengelolaan pendidikan Islam
Bagian penting lain dari penelitian ini adalah penegasan bahwa metode pembelajaran sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Nabi Khidir memberi pelajaran secara bertahap, tidak tergesa-gesa menjelaskan, lalu menutup proses belajar dengan penjelasan menyeluruh atas peristiwa-peristiwa yang sebelumnya sulit dipahami Nabi Musa. Dari sini, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran harus memiliki alur, strategi, dan penutup yang membantu peserta didik memahami makna dari pengalaman belajar.
Baca Juga: PKM FAI Camp Matangkan Proposal Menuju Seleksi Tingkat Universitas
Penelitian tersebut akhirnya menyatakan bahwa kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir membawa dampak positif bagi manajemen pendidikan Islam, khususnya pada dua unsur utama: pendidik dan peserta didik. Pendidik dituntut ikhlas, tepat metode, dan sadar peran sebagai penyampai ilmu. Sementara peserta didik didorong untuk memiliki motivasi belajar tinggi, semangat mencari ilmu, dan adab yang baik dalam menjalani proses pembelajaran.
Sumber: Artikel jurnal Analisis Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS pada Surah Al-Kahfi Ayat 60-82 dalam Manajemen Pendidikan Islam karya Rahmi Rizqina Layyinawati dan Imam Fauji.







