Mpd.umsida.ac.id – Usia bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus belajar dan meraih prestasi. Semangat tersebut ditunjukkan oleh Elly Chusmala Dani, lulusan Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), yang berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Pascasarjana pada Wisuda ke-48 Umsida, Sabtu (25/10/2026).
Elly menuntaskan pendidikan magisternya dalam waktu 1 tahun 10 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84. Prestasi ini menjadi pencapaian membanggakan sekaligus membuktikan bahwa kesempatan mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi tetap terbuka tanpa memandang usia.
Bagi Elly, keberhasilan tersebut bukan semata-mata tentang nilai akademik maupun gelar yang diperoleh. Ia memandang pendidikan sebagai proses memperkaya pengetahuan, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan diri agar mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Kembali ke Umsida, Semangat Belajar Tak Pernah Padam
Keputusan Elly melanjutkan pendidikan S2 di Umsida tidak terlepas dari pengalaman akademiknya terdahulu. Ia pernah mengikuti pendidikan Akta IV di kampus tersebut sekitar tahun 2011.
Pengalaman positif selama menempuh pendidikan membuatnya kembali mempercayakan perjalanan akademiknya kepada Umsida, khususnya melalui Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam.
“Saya ingin melanjutkan studi di tempat yang nyaman dan sudah pernah saya kenal,” ungkapnya.
Berdomisili di Bangil, Pasuruan, Elly harus membagi waktu untuk mengikuti perkuliahan setiap Jumat dan Sabtu. Meski membutuhkan komitmen dan pengaturan waktu, hal tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk menyelesaikan pendidikan magister.
Kesempatan tersebut semakin terbuka setelah dirinya dinyatakan menerima beasiswa Madin. Sebelumnya, Elly telah dua kali mencoba memperoleh beasiswa di perguruan tinggi tempatnya menempuh pendidikan sarjana, tetapi belum berhasil.
“Alhamdulillah, pada pendaftaran ketiga saya mencoba di Umsida dan mendapatkan beasiswa Madin,” tuturnya.
Kembalinya Elly ke Umsida juga memberikan pengalaman berbeda. Ia melihat perkembangan fasilitas dan lingkungan akademik kampus yang semakin maju dibandingkan ketika pertama kali menjalani pendidikan di sana.
Belajar Bersama Generasi Muda Jadi Motivasi Meraih Prestasi
Menempuh pendidikan magister di usia yang tidak lagi muda menghadirkan tantangan tersendiri bagi Elly. Salah satunya adalah beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan yang didominasi mahasiswa berusia lebih muda.
Dalam kelas yang beranggotakan sekitar 40 mahasiswa, Elly bertemu dengan rekan-rekan dari berbagai generasi dan latar belakang profesi. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi dorongan baginya untuk terus meningkatkan kemampuan akademik.
“Karena usia saya sudah tidak lagi muda, saya ingin terus menggali cita-cita. Saya harus bersaing dengan mereka. Jangan sampai yang tua kalah dengan yang muda,” ujarnya.
Menurutnya, proses pembelajaran di Magister MPI Umsida tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi dari dosen, tetapi juga melalui diskusi dan pertukaran pengalaman antarmahasiswa.
Keberagaman profesi, termasuk mahasiswa yang berasal dari lingkungan pemerintahan dan organisasi Muhammadiyah, membuat suasana perkuliahan semakin kaya akan perspektif.
“Kami saling berbagi ilmu dan pengalaman. Apa yang baik dari teman-teman kami ambil, dan apa yang mereka butuhkan juga kami bagikan,” jelasnya.
Elly juga menilai dukungan dosen dan teman-teman menjadi faktor penting dalam perjalanan akademiknya. Lingkungan pembelajaran yang terbuka dan saling mendukung membantunya menghadapi berbagai tantangan selama perkuliahan.
“Saya tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan mereka. Saya juga tidak mungkin menjadi mahasiswa terbaik tanpa dukungan teman-teman dan dosen yang telah mengajar saya,” ungkapnya.
Baginya, keberhasilan meraih predikat wisudawan terbaik merupakan hasil dari kerja keras pribadi yang berjalan beriringan dengan dukungan lingkungan akademik.
Berharap Lanjut S3 dan Mengamalkan Ilmu Pendidikan Islam
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Elly masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral atau S3.
Ia berharap Umsida dapat membuka program doktoral yang sesuai sehingga para alumni memiliki kesempatan untuk kembali mengembangkan keilmuan di almamaternya.
“Saya sangat berharap Umsida membuka program doktoral agar kami sebagai alumni bisa melanjutkan pendidikan S3 di Umsida,” katanya.
Meski memiliki keinginan melanjutkan pendidikan, Elly menegaskan bahwa hal terpenting setelah lulus adalah kemampuan mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
Sebagai lulusan Magister Manajemen Pendidikan Islam, ia berharap ilmu yang dipelajarinya dapat memberikan kontribusi nyata, khususnya dalam pengembangan dan pengelolaan pendidikan Islam.
“Jangan hanya membawa gelar magister atau predikat wisudawan terbaik. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang telah kita dapatkan selama kuliah bisa diamalkan,” tegasnya.
Elly juga membagikan pesan kepada mahasiswa yang masih menjalani pendidikan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai kesulitan akademik.
Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan membutuhkan niat yang kuat, kedisiplinan, dan motivasi yang terus dijaga.
“Niatnya tidak boleh setipis tisu, tetapi harus setebal balok kayu,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa semangat belajar harus tumbuh dari kesadaran diri sendiri, bukan hanya karena dorongan orang lain.
“Harus selalu semangat dan terus meningkatkan motivasi dari diri sendiri. Karena kalau niatnya tidak kuat, akan sulit untuk berhasil sampai titik kelulusan,” pungkasnya.(AHW)














