Penelitian Umsida Ungkap Peran Literasi Digital dalam Membentuk Kebiasaan Belajar Siswa

Mpd.umsida.ac.id – Pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan tidak hanya memberikan kemudahan akses terhadap sumber belajar, tetapi juga berpotensi membentuk keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar siswa sejak usia sekolah dasar.

Baca Juga: S2 MPI Umsida Perkuat Kolaborasi Pendidikan melalui MoA dengan Argia Academy

Hal tersebut menjadi fokus penelitian Nuryanti dan Eni Fariyatul Fahyuni dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui penelitian berjudul Digital Literacy Movement Enhances Personal Skills and Learning Habits in Elementary School Students.

Penelitian ini mengkaji bagaimana Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang terintegrasi dengan teknologi digital dapat membantu siswa mengembangkan kemandirian, kedisiplinan, kepercayaan diri, serta kebiasaan belajar yang lebih baik.

Kajian tersebut juga menyoroti pentingnya pengelolaan program literasi digital secara sistematis agar teknologi tidak hanya menjadi pelengkap pembelajaran, tetapi mampu memberikan manfaat bagi perkembangan siswa.

Literasi Digital Dorong Kemandirian dan Kebiasaan Belajar

Perkembangan teknologi membuka peluang bagi sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif dan mudah diakses oleh siswa.

Melalui pemanfaatan buku digital, komputer, dan perangkat teknologi lainnya, siswa memiliki kesempatan untuk memperoleh berbagai sumber bacaan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perpustakaan konvensional.

Dalam penelitian tersebut, literasi digital dipahami bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, melainkan juga keterampilan mengakses, memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara kritis serta bertanggung jawab.

Kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran menjadi salah satu bentuk pembiasaan literasi yang dapat dikembangkan melalui media digital.

Pembiasaan tersebut diharapkan mampu mendorong siswa untuk lebih aktif membaca, memahami isi bacaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir secara mandiri.

Selain meningkatkan keterampilan membaca, literasi digital juga berpotensi memperkuat kemampuan komunikasi, kolaborasi, tanggung jawab, dan pengelolaan diri dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian, penerapan literasi digital perlu diarahkan untuk membangun budaya belajar yang berkelanjutan, bukan hanya meningkatkan intensitas penggunaan teknologi di lingkungan sekolah.

Penelitian Libatkan Guru, Siswa, dan Orang Tua di Sidoarjo

Penelitian ini menggunakan metode campuran atau mixed method dengan desain exploratory sequential, yaitu menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

Penelitian dilaksanakan di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Sidoarjo selama Desember 2024 hingga Mei 2025.

Pada tahap kualitatif, penelitian melibatkan 20 informan yang terdiri atas tenaga pendidik, siswa, dan orang tua.

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengidentifikasi pelaksanaan program literasi digital, kendala yang dihadapi sekolah, serta upaya pengembangan program.

Sementara itu, tahap kuantitatif melibatkan 100 responden untuk mengukur hubungan antara literasi digital, keterampilan pribadi, dan kebiasaan belajar siswa.

Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS melalui pengujian validitas, reliabilitas, korelasi, dan regresi linear sederhana.

Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami bagaimana pemanfaatan teknologi digital berkaitan dengan perkembangan keterampilan pribadi dan pembentukan kebiasaan belajar siswa sekolah dasar.

Manajemen Sekolah Jadi Kunci Keberhasilan Literasi Digital

Salah satu perhatian utama dalam penelitian ini adalah pentingnya manajemen sekolah dalam mendukung keberhasilan program literasi digital.

Pelaksanaan program membutuhkan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, serta evaluasi yang berkelanjutan agar kegiatan literasi dapat berjalan secara efektif.

Kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menentukan kebijakan, menyediakan fasilitas, dan mendorong inovasi pembelajaran yang dilakukan guru.

Di sisi lain, kompetensi digital guru menjadi faktor penting dalam mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan pembelajaran siswa.

Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam pengembangan literasi digital, mulai dari keterbatasan fasilitas, kesiapan tenaga pendidik, hingga belum optimalnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua.

Oleh karena itu, pengembangan program literasi digital membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan agar pelaksanaannya tidak berhenti pada penyediaan perangkat teknologi.

Melalui kajian ini, penelitian Nuryanti dan Eni Fariyatul Fahyuni memberikan perspektif mengenai pentingnya integrasi literasi digital dalam pengelolaan pendidikan dasar.

Baca Juga: Melampaui Gelar, Menuju Kebijaksanaan: Tanggung Jawab Intelektual dalam Membangun Peradaban

Kajian tersebut sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola lembaga pendidikan dalam merancang program literasi yang lebih adaptif, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi