Mpd.umsida.ac.id– Program boarding school yang dikelola secara terstruktur dan ditopang budaya sekolah Islami dinilai mampu memperkuat kemandirian belajar peserta didik.
Baca Juga: Berita, Riset dan Inovasi Pelatihan Guru Efektif Jadi Kunci Profesionalisme di Era Digital
Temuan itu terlihat dalam penelitian berjudul Manajemen Program Boarding School dan Budaya Sekolah terhadap Kemandirian Belajar Peserta Didik di SMP Muhammadiyah 9 Boarding School Tanggulangin karya Febbianti Widia Santoso dan Eni Fariyatul Fahyuni. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana manajemen pendidikan yang terencana, terorganisasi, dijalankan secara konsisten, dan dievaluasi berkala dapat membentuk peserta didik yang lebih mandiri dalam belajar maupun menjalankan tanggung jawab harian.
Riset ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 9 Boarding School Tanggulangin, Sidoarjo, selama April hingga Juli 2021. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan kepala sekolah, guru, serta peserta didik pengurus IPM sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya menggunakan triangulasi. Dari pendekatan itu, peneliti menemukan bahwa pengelolaan program boarding school tidak hanya menyentuh aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kebiasaan belajar yang disiplin.
Dari sisi manajemen, program boarding school di sekolah tersebut dirancang dengan mengombinasikan kegiatan sekolah, kelas peminatan, ekstrakurikuler, serta budaya sekolah yang bernuansa Islami. Perencanaan itu diarahkan untuk membentuk iklim belajar yang mendukung kemandirian peserta didik. Dalam pelaksanaannya, sekolah juga menempatkan sumber daya manusia sesuai kompetensinya. Guru-guru yang mengampu program unggulan dipilih berdasarkan latar belakang dan pengalaman yang relevan, termasuk guru dengan basis pendidikan pesantren untuk memperkuat sinergi antara pembelajaran di kelas dan pembinaan di asrama.
Implementasi program itu berjalan hampir sepanjang hari. Aktivitas peserta didik dimulai sejak pukul 03.30 dengan qiyamul lail, dilanjutkan salat subuh berjamaah, tahfidz Al-Qur’an, salat dhuha, kegiatan belajar mengajar di sekolah, hingga belajar malam dan halaqah bersama wali asrama. Pola kegiatan yang tertata dari pagi hingga malam tersebut menunjukkan bahwa boarding school di SMP Muhammadiyah 9 Tanggulangin tidak sekadar menghadirkan sistem tinggal di asrama, tetapi membangun lingkungan belajar 24 jam yang menyatukan pendidikan formal, pembiasaan ibadah, penguatan bahasa, dan pengembangan karakter.
Selain sistem asrama, budaya sekolah juga menjadi faktor penting dalam mendukung kemandirian belajar. Penelitian mencatat adanya pembiasaan budaya 5S, salat dhuha berjamaah, kelas tahfidz, kelas bahasa, hingga budaya infaq yang dilaksanakan secara rutin. Di lingkungan sekolah, peserta didik dibiasakan menyapa guru dan wali asrama dengan salam serta menjalankan aktivitas keagamaan sebelum pembelajaran dimulai. Sementara di asrama, pembinaan berlangsung lebih intens melalui kelas tambahan, pengawasan wali asrama, dan penanaman nilai tanggung jawab. Pola semacam ini membuat peserta didik tidak hanya dibentuk dari sisi akademik, tetapi juga dari sisi kedisiplinan, kesadaran diri, dan kepatuhan terhadap jadwal belajar.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa implementasi manajemen program boarding school memberi dampak pada tumbuhnya kesadaran peserta didik terhadap tanggung jawab belajar. Peserta didik dibiasakan mengatur waktu, menyelesaikan kebutuhan pribadinya sendiri, dan menuntaskan tugas akademik tanpa ketergantungan berlebihan pada orang lain. Dalam konteks manajemen pendidikan, kondisi ini menunjukkan bahwa budaya sekolah yang dibangun secara konsisten dapat menjadi instrumen efektif dalam membentuk kemandirian belajar.
Meski demikian, pelaksanaan program tidak lepas dari tantangan. Peneliti mencatat masih adanya kekhawatiran wali murid terhadap padatnya aktivitas harian peserta didik. Selain itu, lingkungan sekolah dan asrama dinilai belum sepenuhnya mendukung penerapan boarding school secara maksimal. Tantangan lain datang dari latar belakang peserta didik yang beragam dan belum seluruhnya memahami kehidupan di lingkungan boarding school, terlebih pada masa pandemi ketika penelitian dilakukan. Faktor fasilitas yang belum sepenuhnya memadai juga menjadi catatan penting dalam pengembangan program.
Di balik tantangan tersebut, peluang pengembangan program juga terbuka lebar. Penelitian menunjukkan bahwa peserta didik berpotensi memiliki kemampuan mengelola waktu lebih baik, tumbuh sebagai pribadi yang bertanggung jawab, memiliki kesadaran diri dalam belajar, bahkan berpeluang menjadi penghafal Al-Qur’an. Bagi tenaga pendidik, program ini juga mendorong kedekatan pada perilaku positif dan pembiasaan ibadah sunnah. Artinya, boarding school bukan hanya memberi manfaat bagi siswa, tetapi juga menciptakan budaya kelembagaan yang lebih religius dan tertib.
Temuan ini menjadi catatan penting bagi pengembangan manajemen pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah berbasis boarding school. Sinergi antara perencanaan program, pengorganisasian tenaga pendidik, pelaksanaan kegiatan yang disiplin, serta evaluasi berkelanjutan terbukti menjadi fondasi dalam membentuk kemandirian belajar peserta didik.
Baca Juga: Kunjungi Guangzhou University, Rektor Umsida Bawa Pulang 4 Program Kemitraan
Bagi Program Magister Manajemen Pendidikan (MPD) Umsida, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa penguatan budaya sekolah dan tata kelola lembaga pendidikan tetap menjadi kunci dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang dalam karakter dan tanggung jawab.
Sumber: Artikel jurnal Manajemen Program Boarding School dan Budaya Sekolah terhadap Kemandirian Belajar Peserta Didik di SMP Muhammadiyah 9 Boarding School Tanggulangin karya Febbianti Widia Santoso dan Eni Fariyatul Fahyuni.






