Pemikiran Ahmad Dahlan Kuatkan Pendidikan Islam Modern

Mpd.umsida.ac.id- Akademisi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo melalui artikel ilmiah berjudul “The Concept of Islamic Education Collaboration with the Education of the Dutch East Indies in Ahmad Dahlan’s Perspective” mengkaji konsep kolaborasi pendidikan Islam dan pendidikan modern dalam perspektif K.H. Ahmad Dahlan,

Baca Juga: Mpd Umsida Kaji Strategi Pendidikan Islam Berbasis Wahyu

yang tercatat diterima pada 14 Juni 2020 di lingkungan Umsida, untuk memahami dasar pembaruan pendidikan Islam melalui metode kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan.

Gagasan Pendidikan Ahmad Dahlan Berangkat dari Sejarah Panjang Pendidikan Islam

Kajian tentang pemikiran K.H. Ahmad Dahlan menjadi penting karena pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah Islam, pesantren, madrasah, dan sekolah modern. Dalam artikel tersebut, pendidikan nasional dipahami sebagai hasil dari proses panjang yang mempertemukan berbagai bentuk lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan tradisional berbasis pesantren hingga sistem sekolah yang berkembang pada masa kolonial Hindia Belanda.

Artikel ini menjelaskan bahwa pendidikan pada masa Hindia Belanda memiliki corak tertentu. Pendidikan saat itu tidak sepenuhnya diarahkan untuk mencerdaskan seluruh masyarakat, tetapi lebih banyak digunakan untuk memenuhi kepentingan administrasi kolonial. Akses pendidikan juga cenderung terbatas dan dipengaruhi oleh pembagian kelas sosial. Kondisi tersebut membuat pendidikan berjalan secara dualistik, antara pendidikan bagi kelompok tertentu dan pendidikan bagi masyarakat pribumi secara umum.

Di sisi lain, pendidikan Islam telah berkembang melalui langgar, pesantren, dan madrasah. Sistem pendidikan ini berperan besar dalam membentuk pemahaman agama, moral, dan karakter masyarakat. Namun, pendidikan Islam tradisional pada masa itu juga menghadapi tantangan, terutama ketika harus berhadapan dengan kebutuhan zaman yang semakin menuntut penguasaan ilmu pengetahuan umum, keterampilan, dan kemampuan berpikir rasional.

Dalam konteks inilah pemikiran Ahmad Dahlan menjadi relevan. Ia tidak melihat pendidikan agama dan pendidikan umum sebagai dua hal yang harus dipisahkan. Sebaliknya, keduanya perlu dikolaborasikan agar peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki dasar moral dan spiritual yang kuat.

Kolaborasi Ilmu Agama dan Umum Jadi Inti Pembaruan

Hasil kajian menunjukkan bahwa Ahmad Dahlan memandang pendidikan sebagai jalan untuk melahirkan manusia yang utuh. Pendidikan tidak cukup jika hanya menekankan kemampuan membaca, menghafal, atau memahami teks agama secara terbatas. Pendidikan juga harus mampu membentuk manusia yang beriman, berakhlak, memiliki ilmu pengetahuan luas, serta dapat menghadapi dinamika kehidupan sosial.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Ahmad Dahlan berupaya menggabungkan pendidikan agama dan pendidikan umum melalui gerakan Muhammadiyah. Ia memasukkan pelajaran agama ke dalam sekolah umum dan menghadirkan pengetahuan umum dalam sekolah agama. Langkah ini menjadi bentuk pembaruan yang pada masanya tidak selalu mudah diterima, karena berbeda dari tradisi pendidikan yang telah berjalan sebelumnya.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan Islam tidak boleh berjalan secara monoton. Umat Islam tidak dapat memisahkan diri dari ilmu pengetahuan umum, teknologi, dan perkembangan zaman. Pendidikan Islam justru perlu hadir sebagai sistem yang mampu menjawab kebutuhan manusia secara lebih luas, baik dalam dimensi duniawi maupun ukhrawi.

Artikel ini juga menegaskan adanya perbedaan antara pendidikan tradisional dan pendidikan modern. Pendidikan tradisional cenderung berpusat pada guru, menggunakan pola pembelajaran satu arah, dan menempatkan peserta didik sebagai objek. Sementara itu, pendidikan modern lebih menempatkan guru sebagai fasilitator, memberi ruang pada peserta didik sebagai subjek pembelajaran, serta memanfaatkan lingkungan, media, dan pengalaman belajar secara lebih luas.

Kolaborasi keduanya tidak berarti menghapus salah satu sistem. Justru, pemikiran Ahmad Dahlan menunjukkan perlunya penggabungan nilai-nilai kuat dari pendidikan Islam dengan pendekatan modern dalam kurikulum, metode, manajemen, dan tujuan pendidikan. Bagi kajian Manajemen Pendidikan Islam, gagasan ini dapat dibaca sebagai dasar penting dalam pengembangan lembaga pendidikan yang adaptif, religius, dan tetap responsif terhadap perubahan sosial.

Relevan bagi Pengembangan Manajemen Pendidikan Islam

Temuan dalam artikel ini memiliki hubungan kuat dengan pengembangan pendidikan Islam masa kini. Pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, berakhlak, dan mampu hidup di tengah perubahan zaman. Karena itu, pengelolaan pendidikan Islam perlu memperhatikan keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, sosial, dan keterampilan hidup.

Bagi lingkungan MPD Umsida, kajian ini dapat menjadi bahan refleksi dalam melihat pentingnya manajemen pendidikan yang tidak sekadar administratif, tetapi juga filosofis dan visioner. Pengelolaan lembaga pendidikan Islam perlu berpijak pada tujuan besar pendidikan, yaitu membentuk manusia yang berkembang secara menyeluruh. Kurikulum, metode pembelajaran, peran guru, dan lingkungan sekolah perlu dirancang agar saling mendukung dalam proses pembentukan karakter dan kecakapan peserta didik.

Artikel tersebut juga menunjukkan bahwa pendidikan Islam modern harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya. Artinya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pendidikan Islam tetap perlu diarahkan pada nilai moral dan pengabdian kepada Allah. Dengan demikian, pendidikan tidak menjadi bebas nilai, tetapi tetap memiliki orientasi etis dan spiritual.

Pemikiran Ahmad Dahlan tentang integrasi ilmu dan amal, ilmu agama dan ilmu umum, kebebasan berpikir, serta pembentukan karakter menjadi fondasi penting bagi pendidikan Islam yang berkemajuan. Gagasan tersebut sejalan dengan kebutuhan lembaga pendidikan hari ini yang harus mampu menyiapkan peserta didik menjadi pribadi cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan sosial.

Baca Juga: FAI Umsida Akan Gelar Seminar Internasional. Hadirkan 5 Narasumber dari Berbagai Negara

Melalui kajian ini, pendidikan Islam tidak ditempatkan sebagai sistem yang tertutup, melainkan sebagai sistem yang terus berkembang. Pendidikan Islam perlu terbuka terhadap pembaruan metode, pengelolaan, dan kurikulum, selama tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Inilah pesan penting dari pemikiran Ahmad Dahlan yang masih relevan bagi pengembangan manajemen pendidikan Islam di masa kini.

Sumber:
Artikel ilmiah “The Concept of Islamic Education Collaboration with the Education of the Dutch East Indies in Ahmad Dahlan’s Perspective” karya Nanik Mindarnengsih, Istikomah, dan Tuafiq Churrohman, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.