mpd.umsida.ac.id – Kajian tentang integrasi tahfidz digital dalam pendidikan anak usia dini menjadi perhatian penting dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam.
Baca Juga: Pengaruh Manajemen Praktik Kerja Lapangan dan Budaya Islami terhadap Soft Skills Peserta Didik SMK
Hal ini dibahas dalam artikel ilmiah berjudul Digital Tahfidz Integration for Forming Rabbani and Qurani Generations karya Distia Intan Nurmalita dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo bersama Eni Fariyatul Fahyuni yang terbit di Journal of Islamic and Muhammadiyah Studies Vol. 7 No. 2 Agustus 2025.
Artikel ini mengulas rencana pengembangan KB-TK Al Muhajirin Islamic School dalam menerapkan sistem informasi digital untuk memperkuat pembelajaran tahfidz, meningkatkan keterlibatan orang tua, serta membentuk generasi Rabbani dan Qurani yang relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.
Digitalisasi Tahfidz sebagai Strategi Pengembangan Sekolah
Dalam kajian tersebut, digitalisasi tahfidz diposisikan sebagai bagian dari Rencana Pengembangan Sekolah atau RPS. RPS menjadi pedoman penting bagi lembaga pendidikan dalam menentukan arah pengembangan, mengurangi ketidakpastian, serta memastikan setiap program berjalan sesuai tujuan pendidikan.
KB-TK Al Muhajirin Islamic School memiliki visi melahirkan generasi Rabbani dan Qurani dengan menerapkan sistem informasi digital. Visi ini tidak hanya menekankan kemampuan anak dalam membaca dan menghafal Al-Quran, tetapi juga pembentukan akhlak, adab, keimanan, serta kesiapan akademik dan nonakademik sejak usia dini.
Kajian ini menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fase strategis untuk mengenalkan Al-Quran. Pada masa ini, kemampuan anak dalam menerima, mengingat, dan membiasakan nilai-nilai keislaman berkembang dengan kuat. Karena itu, pembelajaran tahfidz perlu dirancang secara lebih sistematis, menarik, dan terpantau.
Sistem informasi digital dinilai mampu menjawab tantangan pembelajaran tahfidz yang selama ini masih banyak dilakukan secara konvensional. Pencatatan capaian hafalan harian, perkembangan adab, hingga aktivitas pembelajaran dapat terdokumentasi lebih rapi dan mudah diakses oleh guru maupun orang tua.
Orang Tua Dapat Memantau Perkembangan Anak Secara Real Time
Salah satu poin penting dalam artikel tersebut adalah keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Melalui sistem informasi digital, orang tua tidak lagi hanya menerima laporan perkembangan anak secara berkala, tetapi dapat memantau perkembangan pembelajaran dari mana saja dan kapan saja.
Fitur digital yang dirancang mencakup menu akademik tahfidz dan menu nonakademik. Pada menu akademik, penilaian meliputi kelancaran hafalan, pelafalan makharijul huruf, tajwid, serta fashahah. Sementara itu, menu nonakademik memuat aktivitas seperti latihan salat berjamaah yang juga berhubungan dengan proses murojaah hafalan.
Setiap siswa aktif akan memperoleh akun untuk masuk ke sistem informasi digital. Dari akun tersebut, orang tua dapat melihat perkembangan kegiatan belajar anak di sekolah. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan penilaian terhadap layanan pembelajaran wali kelas melalui sistem bintang.
Model ini memperlihatkan bahwa manajemen pendidikan Islam tidak cukup hanya mengandalkan penguatan kurikulum, tetapi juga memerlukan sistem komunikasi yang efektif antara sekolah dan keluarga. Sinergi ini penting karena keberhasilan tahfidz anak usia dini sangat dipengaruhi oleh kesinambungan pembiasaan antara lingkungan sekolah dan rumah.
Bagi Program Studi S2 Manajemen Pendidikan Islam Umsida, gagasan ini relevan dengan kebutuhan pengelolaan lembaga pendidikan Islam modern. Kepala sekolah, guru, dan pengelola lembaga perlu mampu membaca perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai utama pendidikan Islam.
Guru dan Infrastruktur Menjadi Kunci Keberhasilan
Meski menawarkan peluang besar, penerapan tahfidz digital tidak dapat berjalan hanya dengan menyediakan aplikasi. Artikel tersebut menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, kompetensi guru, dukungan orang tua, serta strategi implementasi yang matang.
Tahapan pengembangan sistem dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu perencanaan, review, realisasi, dan evaluasi berkelanjutan. Pada tahap perencanaan, sekolah perlu bekerja sama dengan penyedia sistem informasi digital yang mampu menyesuaikan fitur aplikasi dengan kebutuhan lembaga. Setelah itu, dilakukan review untuk memastikan fitur yang tersedia benar-benar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran tahfidz.
Guru juga menjadi aktor utama dalam pelaksanaan program. Karena itu, pelatihan guru perlu dilakukan secara rutin agar mereka mampu menggunakan sistem digital dengan baik, menginput data perkembangan anak secara tepat, serta memanfaatkan aplikasi untuk memperkuat proses pembelajaran.
Selain itu, evaluasi berkelanjutan menjadi tahap penting untuk melihat efektivitas program. Dengan evaluasi, sekolah dapat mengetahui aspek yang sudah berhasil dan bagian yang masih perlu diperbaiki. Pendekatan ini menjadikan digitalisasi tahfidz bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi bagian dari manajemen mutu pendidikan Islam.
Baca Juga: IMM Averroes FAI Umsida Raih Juara Umum 2 pada Gebyar Milad IMM Sidoarjo 2026
Kajian ini menunjukkan bahwa integrasi tahfidz digital dapat menjadi model pengembangan sekolah Islam yang lebih adaptif, terukur, dan kolaboratif. Melalui pemanfaatan teknologi, lembaga pendidikan Islam berpeluang meningkatkan kualitas layanan, memperkuat komunikasi dengan orang tua, dan menjaga tujuan utama pendidikan, yaitu membentuk generasi yang beriman, berakhlak, serta dekat dengan Al-Quran.
Sumber: Artikel Digital Tahfidz Integration for Forming Rabbani and Qurani Generations karya Distia Intan Nurmalita dan Eni Fariyatul Fahyuni dalam Journal of Islamic and Muhammadiyah Studies Vol. 7 No. 2 Agustus 2025.









